Terima Kasih Tabloid BOLA
Jumat 19 Oktober kemarin mungkin menjadi hari akhir bagi tabloid olahraga di Indonesia.Bagaimana nggak,tabloid BOLA,yang merupakan satu-satunya tabloid olahraga yang masih eksis di era milenial ini harus tutup usia,setelah 34 tahun menjadi saksi sejarah perkembangan olahraga Indonesia dan secara khusus menjadi referensi utama perkembangan sepakbola,baik nasional maupun internasional,di masa jayanya.
Ucapan selamat tinggal,tanpa karangan bunga,untuk para pembaca
Setidaknya,ini menambah daftar panjang beberapa media cetak olahraga yang harus tutup usia,seperti Tabloid GO (Gema Olahraga) dan SOCCER.Persoalan jumlah penjualan lah yang menjadi alasan mengapa beberapa media cetak olahraga tutup dan kurang menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman juga menjadi alasan lain yang bisa diterima khalayak.
Bagaimanapun,tabloid BOLA bisa dibilang sebagai pelopor media cetak khusus olahraga,sejak 1984 dan telah meliput sembilan kali penyelenggaraan Piala Dunia,dari tahun 1986 di Meksiko sampai 2018 di Rusia.
Pengalaman pribadi saya dengan tabloid ini sebenarnya banyak banget.Dan yang terpenting,ikonnya SI GUNDUL,dengan komik stripnya, sebagai maskotnya tabloid BOLA yang menjadi magnet tersendiri.
Karena sekarangnya zaman sensor-sensoran,maka SI GUNDUL juga kena sensor
Dulu....ketika masih doyan-doyannya dengan olahraga Tinju,saya merengek minta dibelikan tabloid BOLA dan juga tabloid GO dan pas masih SMP,ketika duit jajan masih ditakar Rp.5000 sehari,saya rela mengumpulkan sisa uang jajan cuma buat beli tabloid ini.
Praktis....hanya beberapa nama yang kini masih bisa bertahan,yaitu TopSkor dan SuperBall-nya milik Tribun Group,di tengah derasnya informasi olahraga berbasis media sosial,terutama yang sekarang lagi moncer-moncernya di aplikasi Instagram.
Akhirul kalam,terima kasih untuk tabloid BOLA,yang sudah menemani penikmat olahraga secara umum dan penikmat sepakbola secara khusus,dengan seintim-intimnya dan tetap Membawa Anda Ke Arena.

Komentar
Posting Komentar