Ketika Darah Tertumpah di Tempat Suci

Jumat kemarin,15 Maret 2019,mungkin menjadi hari yang cukup kelam bagi umat manusia,terlebih umat Islam sedunia.Bagaimana tidak? Dengan kejinya seseorang menembak secara membabi buta para jamaah sholat Jumat di salah satu masjid di Selandia Baru dan parahnya tidak ada penyesalan sama sekali dari si pelaku,setelah dirinya tertangkap.

Kejadian ini mengingatkan saya akan beberapa kejadian serupa,namun berbeda tujuan dan tempat.Masih segar di ingatan saya ketika terjadinya bom bunuh diri di Masjid dalam area markas kepolisian di Cirebon Jawa Barat,beberapa tahun lalu.Pelakunya memang tewas,tetapi misi yang dibawa pelaku ialah "berjihad".

Kejadian kedua ialah peristiwa pembunuhan ulama besar di Suriah ketika sedang mengajar di masjid,yaitu Syekh Ramadhan Al-Buthi,dengan sebuah ledakan bom dan berondongan senjata.Saya memang tidak tahu persis bagaimana latar belakang kejadian tersebut,tetapi yang pasti tujuan dari tindakan tersebut adalah "mengingatkan kepada beliau (Syekh Ramadhan Al-Buthi) untuk tidak terlalu dekat dengan penguasa Suriah yang dzalim pada rakyatnya".

Kejadian-kejadian tersebut seharusnya menyadarkan kita,bahwa tempat yang suci seperti Masjid tak sepantasnya dikotori dengan nafsu duniawi,apalagi dijadikan ajang pertumpahan darah.Mari kita kembalikan lagi fungsinya sebagai tempat menempa jiwa dan membina masayarakat.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mlaku-Mlaku di Singapura dan Malaysia (bagian 1)

Bertamu ke Museum POLRI

Mengambil Pelajaran dari Kasus Brigadir Josua