PEMILU Kok Makan Korban?
Pesta Demokrasi seharusnya berakhir harmoni,tanpa ribut sana-sini.Tapi apa yang dipertontonkan jauh dari itu.Wabil khusus pada Pemilihan Presiden,dimana para Calon saling mengklaim kemenangan dan tudingan kecurangan makin menyemarakan hal itu.Untuk soal itu,saya nggak bahas disini,sebab terlalu jenuh dan mumet kalau mikirin itu.
Baiklah...PEMILU atawa Pemilihan Umum merupakan hajatan terbesar di Indonesia setelah Piala Dunia.Ya gimana nggak,setiap masing-masing Partai saling nunjukin giginya demi meraih kursi wakil rakyat,dari Kabupaten/Kota sampai DPR-RI dan gak heran,bagi mereka yang mencalonkan diri juga jor-joran modalnya,bahkan hampir jual ginjal.
2019 ini bisa dibilang PEMILU yang makan korban,sejak pertama kali digelar dari 1955.Lho kok bisa?Gini lho.nyet...sistem PEMILU yang kita pakai ini memang demokratis dan bebas,gak pakai vulgar.Namun saking bebasnya,Pemerintah malah menetapkan untuk nyoblos serentak.Artinya tahun ini pelaksanaan PEMILU cukup sekali,tidak dua kali seperti 2004,dimana Pemilihan Presiden untuk kali pertama digelar dan dilaksanakan setelah Pemilihan Legislatif.
Kembali ke masalah banyaknya "tumbal" Pesta Demokrasi serentak tahun ini.Jatuhnya korban ini tidak dapat dipisahkan dari proses pemungutan dan penghitungan suara yang memakan waktu lama.Lha gimana nggak,biasanya orang cukup lima menit di Bilik Suara,sekarang udah mirip orang di Toilet.Bukan cuma itu,ketika menghitung suara inilah yang sangat-sangat bajingkrek setan lamanya.Yang biasanya cukup sampai bedug Ashar atau menjelang Maghrib penghitungan suara di TPS selesai,ini malah sampai bedug Isya,bahkan nyaris masuk bedug Subuh.
Tidak jarang,banyak petugas KPPS yang siap sedia melayani para pemilih hingga proses penghitungan suara,baik di TPS hingga tingkat di atasnya,seperti tingkat Kecamatan misalnya,banyak yang mengalami kelelahan dan meninggal dunia,diakibatkan proses penghitungan suara yang sangat kesuwen tenan.Selain petugas KPPS,petugas keamanan dari POLRI pun tidak luput menjadi "mangsa" PEMILU Serentak ini.Hingga hari ini, 296 petugas KPPS dan 22 anggota POLRI yang berpulang ke pangkuan Tuhan,akibat proses PEMILU Serentak ini dan ada kemungkinan bertambah,jika proses penghitungan suara masih terus berlanjut,tanpa memikirkan faktor kesehatan para petugas KPPS.
Yang paling sangat sengke' lagi,ada usulan bahwa PEMILU 2024 mendatang bukan hanya memilih anggota Legislatif dan Presiden saja,tetapi malah ditambah Pilkada.Weleh....Sangat-sangat Sesu Asu sekali para pembaca.Lha wong PEMILU Serentak 2019 ini aja benar-benar makan tumbal,apalagi nanti.
Sangat berharap,dengan adanya kejadian ini,mereka yang memangku kepentingan negara ini lima tahun kedepan berpikir lebih jernih dan belajar dari situasi PEMILU 2019 yang menurut semua pihak sebagai PEMILU terkacau se-jagat raya.
Baiklah...PEMILU atawa Pemilihan Umum merupakan hajatan terbesar di Indonesia setelah Piala Dunia.Ya gimana nggak,setiap masing-masing Partai saling nunjukin giginya demi meraih kursi wakil rakyat,dari Kabupaten/Kota sampai DPR-RI dan gak heran,bagi mereka yang mencalonkan diri juga jor-joran modalnya,bahkan hampir jual ginjal.
2019 ini bisa dibilang PEMILU yang makan korban,sejak pertama kali digelar dari 1955.Lho kok bisa?Gini lho.nyet...sistem PEMILU yang kita pakai ini memang demokratis dan bebas,gak pakai vulgar.Namun saking bebasnya,Pemerintah malah menetapkan untuk nyoblos serentak.Artinya tahun ini pelaksanaan PEMILU cukup sekali,tidak dua kali seperti 2004,dimana Pemilihan Presiden untuk kali pertama digelar dan dilaksanakan setelah Pemilihan Legislatif.
Kembali ke masalah banyaknya "tumbal" Pesta Demokrasi serentak tahun ini.Jatuhnya korban ini tidak dapat dipisahkan dari proses pemungutan dan penghitungan suara yang memakan waktu lama.Lha gimana nggak,biasanya orang cukup lima menit di Bilik Suara,sekarang udah mirip orang di Toilet.Bukan cuma itu,ketika menghitung suara inilah yang sangat-sangat bajingkrek setan lamanya.Yang biasanya cukup sampai bedug Ashar atau menjelang Maghrib penghitungan suara di TPS selesai,ini malah sampai bedug Isya,bahkan nyaris masuk bedug Subuh.
Tidak jarang,banyak petugas KPPS yang siap sedia melayani para pemilih hingga proses penghitungan suara,baik di TPS hingga tingkat di atasnya,seperti tingkat Kecamatan misalnya,banyak yang mengalami kelelahan dan meninggal dunia,diakibatkan proses penghitungan suara yang sangat kesuwen tenan.Selain petugas KPPS,petugas keamanan dari POLRI pun tidak luput menjadi "mangsa" PEMILU Serentak ini.Hingga hari ini, 296 petugas KPPS dan 22 anggota POLRI yang berpulang ke pangkuan Tuhan,akibat proses PEMILU Serentak ini dan ada kemungkinan bertambah,jika proses penghitungan suara masih terus berlanjut,tanpa memikirkan faktor kesehatan para petugas KPPS.
Yang paling sangat sengke' lagi,ada usulan bahwa PEMILU 2024 mendatang bukan hanya memilih anggota Legislatif dan Presiden saja,tetapi malah ditambah Pilkada.Weleh....Sangat-sangat Sesu Asu sekali para pembaca.Lha wong PEMILU Serentak 2019 ini aja benar-benar makan tumbal,apalagi nanti.
Sangat berharap,dengan adanya kejadian ini,mereka yang memangku kepentingan negara ini lima tahun kedepan berpikir lebih jernih dan belajar dari situasi PEMILU 2019 yang menurut semua pihak sebagai PEMILU terkacau se-jagat raya.

Komentar
Posting Komentar