Kampungku yang Mulai Berubah

Derap langkah pembangunan emang gak bisa dibendung,seperti derasnya air Ciliwung di Bendungan Katulampa kala musim penghujan.Tempat bermain dan kongkow-kongkow masyarakat yang dulunya ikonik dan berkesan,kini berubah menjadi beton-beton dan deret perumahan.Ini juga sudah terjadi disekitaran rumah saya,Kelurahan Srengseng,Jakarta Barat.

Zaman masih SD,masih teringat betul,main di kebon singkong sambil bakar singkong yang entah punya siapa itu kebon,dengan lebatnya rimbun pohon bambu yang konon katanya tempat jin buang anak atau kuntilanak bermesraan dengan genderuwo tiap malam Jumat,plus embung yang airnya hijau dan pernah main disitu sampai gatal kulit,kini berubah menjadi pabrik dan pergudangan.

Belum lagi kebon depan Musholla,dimana lebatnya pohon melinjo dan pohon pisang,yang tentu menjadi primadona ibu-ibu,karena sering dimanfaatkan daun serta buahnya plus pohon lainnya,termasuk pohon rambutan,sekarang berubah menjadi kost-kostan.

Satu-satunya yang masih ada ialah Hutan Kota Srengseng,satu dari sekian paru-paru hijau kota Jakarta.Terkenal dengan lebatnya pepohonan sampai pernah jadi sarang para monyet liar yang entah asalnya dari mana tiba-tiba aja nongol disitu.Saking lebatnya,tempat ini kadang jadi sarang pelampiasan nafsu sesaat para muda-mudi saban malam Minggu hingga tempat bolos anak sekolah.

Hasil gambar untuk hutan kota srengseng
Satu-satunya yang masih eksis....

Ini bukan sekedar isapan jempol atau kabar burung,adik saya semasa SD mengikuti kegiatan perkemahan disana,pernah menemukan beberapa (maaf banget) pakaian dalam yang nyangkut di pohon dan mergok orang yang sedang indehoy seenaknya.

Ya begitulah arus pembangunan,mau tidak mau sedikit menggeser eksistensi tempat-tempat ikonik masyarakat dan seenggaknya harus menjaga yang masih ada di kampung kita.

Kalau Bukan Kite Nyang Ngurusin,Siape Lagi ?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mlaku-Mlaku di Singapura dan Malaysia (bagian 1)

Bertamu ke Museum POLRI

Mengambil Pelajaran dari Kasus Brigadir Josua