Ketika Misuh Tak Lagi Tabu
Baru-baru ini sedang viral promosi jajanan pinggir jalan di daerah kota Bandung,Jawa Barat,dengan menggunakan kata-kata kasar atau misuh sebagai alat promosi kepada pelanggan.Tentunya ini mengundang ketertarikan khalayak ramai,terlebih warganet kita yang rata-rata didominasi kaum muda.
Oke kita sedang tidak membahas jajanan yang dipromosikan itu,tapi yang kita bahas adalah tentang misuh itu sendiri.Dikutip dari KBBI Daring milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,misuh sendiri artinya mengeluarkan kata-kata yang mengarah pada makian atau kemarahan dan umumnya bersifat kasar.
Dulu,sekitar hampir enam belas tahun lalu,ketika saya masih duduk di bangku SD,kalau seorang murid ngomongnya misuh,baik saat jam istirahat ataupun di kelas,bakal ditegur terus-terusan oleh guru,kalau perlu Guru Agama dan Kepala Sekolah ikut turun tangan.
Lain halnya sekarang,misuh atau umpatan kasar atau apalah itu jenisnya,sudah dianggap perkara biasa dalam pergaulan.Jika kita ke Jawa Timur,terutama kota Surabaya,sudah lumrah kalau ada anak muda yang masih misuhan ke sesama teman (tidak perlu saya sebut disini apa saja misuhan mereka,mungkin para pembaca lebih tahu dari saya).
Memang perkataan toxic tersebut memang terdengar lucu bahkan bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal,itupun hanya dilingkup terbatas.Tapi kalau sudah di lingkungan umum yang beragam orangnya,barangkali anda akan mendapatkan teguran bahkan mendapat bogem mentah.
Ya,mau bagaimana lagi,dinamika pergaulan anak muda sudah semakin berubah,namun yang membuat miris malah semakin merosot kualitas peradabannya.
Sangat disayangkan sekali ya,lur.
Komentar
Posting Komentar