Menjadi Ikan Besar di Kolam Kecil atau Menjadi Ikan Kecil di Kolam Besar (Sebuah Perjalanan Pendidikan Saya)

 Judul tulisan kali ini mungkin terasa gak nyambung dengan topik yang saya bahas.Gimana gak nyambung,kok ada ikannya segala?Jadi gini,ini cuma sekedar perumpamaan,bukan sedang membahas ikan.Baiklah kita langsung to the point saja.

Dulu,semasa lulus dari SMP Negeri 207,saya selalu berpikir,bahwa bersekolah di SMA Negeri yang favorit akan membuat saya lebih berkembang dan lebih maju.Kenyataan memang tak sejalan dengan harapan.Saya lulus dari SMP dengan NEM yang kecil dan pas-pasan,kalaupun masuk SMA Negeri favorit.Akhirnya saya pun masuk SMA swasta,yang tergolong kurang favorit,yaitu SMA Swasta 1 Barunawati.

Awal-awal masuk SMA swasta tersebut,saya merasa minder bahkan kalau saya cerita ke teman-teman SMP,jadi gak enak.Tapi,setelah dilalui selama tiga tahun (saya masuk 2011 dan lulus 2014) malah banyak perkembangan bagi diri sendiri.


Tahun 2012,foto dengan Mobil Bung Karno di
Museum Juang 45


Kenangan di Bandung tahun 2013,Silaturahmi ROHIS Nusantara
bareng kawan-kawan dari Kebumen.

Study Tour di Gunung Bromo,tahun 2013.

Berpose depan stupa di Candi Borobudur,setelah
kunjungan dari Gunung Bromo,2013.

Masa SMA pun sudah diarungi,nah lagi-lagi setelah lulus SMA,saya memiliki harapan agar dapat diterima di universitas Negeri.Secara,biaya kuliah lebih murah ditambah beasiswa seabrek,menjadi magnet buat saya.Namun,lagi-lagi saya malah gak dapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi di universitas negeri.Akhirnya saya memutuskan masuk universitas swasta,ya Universitas Esa Unggul di fakultas yang gak saya sangka,Fakultas Hukum.


Zaman Pengenalan Kampus,2014
Foto dengan yang manis-manis...


Masa awal-awal kuliah.

Semasa menjalani perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul selama lima tahun (masuk 2014 dan lulus pada 2019),tentu banyak kisah yang gak disangka-sangka.Memang pada awal kuliah,sempat agak nelangsa,kok saya bisa nyasar di kampus ini?Kenapa bukan di kampus Negeri saja?
Ternyata eh ternyata,saya malah mendapat pengalaman luar biasa,yang mungkin akan sulit didapat jika saya masuk kampus Negeri.


Kali pertama mengikuti persidangan di Mahkamah Konstitusi tahun 2014.




Masa awal berorganisasi,tahun 2015 bersama Lembaga Dakwah Kampus IKMI.

Tahun 2015,mungkin jadi pengalaman yang berkesan.Pertama kali naik pesawat terbang untuk melakukan studi tour ke negara tetangga,Singapura dan Malaysia.Program yang dilaksanakan oleh Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul dengan tujuan untuk mengenal sistem hukum di kawasan Asia Tenggara ini,cukup bermanfaat dan berkesan buat saya.

               
                         Pertama kali naik pesawat terbang dan pergi ke dua negara orang sekaligus,kapan lagi bisa seperti ini?
Kegiatan Study Tour di Singapura dan Malaysia,tahun 2015
               
Tahun 2018 mungkin menjadi puncak kehidupan di kampus.Akhirnya saya bisa berprestasi di tingkat yang cukup memuaskan.Bisa mewakili kampus pada sebuah kejuaran beladiri Shorinji Kempo antar Mahasiswa se-Indonesia dan mempersembahkan juara (meski hanya juara 2),menjadi sebuah kepuasan tersendiri.


Meski hanya Juara 2 dan bukan kejuaraan bergengsi sekelas Kejurnas,namun hasil ini menjadi
penambah rasa syukur atas apa yang saya jalani sekarang.

2019 mungkin menjadi tahun pamungkas di kehidupan kampus saya.Perjuangan menyusun skripsi yang amat melelahkan hingga mengorbankan jatah masuk PPLM DKI Jakarta cabang olahraga beladiri Shorinji Kempo,terbayar dengan wisuda.

Alhamdulillah,akhirnya bisa lulus kuliah dan menjadi sarjana.

Dari perjalanan pendidikan yang saya lalui,akhirnya saya mampu menjadi ikan besar di kolam kecil.
Makna dari perumpamaan ini ialah,dimanapun tempatnya menuntut ilmu atau bekerja,jadilah orang yang mampu berkontribusi di lingkungannya.SMA dan Universitas saya bolehlah swasta,namun saya mampu berkontribusi dan mengembangkan diri sebaik-baiknya.

Bayangkan jika saja saya masuk SMA Negeri dan Universitas Negeri,saya hanya menjadi ikan kecil di kolam besar.Artinya saya tidak akan memiliki kontribusi lebih,sulit mengembangkan diri bahkan bisa menjadi nelangsa,akibat gak kuat menjalani kehidupan di SMA Negeri atau Universitas Negeri.Boleh jadi kalau saya masuk dua-duanya,saya malah menderita.Na'udzubillah.

Akhirnya sebuah kesimpulan dapat saya ambil,apalah arti sebuah nama tanpa karya dan kontribusi.Semoga perjalanan pendidikan saya dapat menjadi penambah rasa syukur saya dihadapan Allah dan akan menjadi cerita bagi anak cucu saya kelak.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mlaku-Mlaku di Singapura dan Malaysia (bagian 1)

Bertamu ke Museum POLRI

Mengambil Pelajaran dari Kasus Brigadir Josua