Solusi Ditengah Larangan Mudik Lebaran di Masa Pandemi
Di tengah bulan suci Ramadhan 1442 H yang sudah memasuki pertengahan bulan,pil pahit ditengah bulan suci harus diterima oleh sebagian besar masyarakat.Untuk kali kedua,larangan pulang kampung alias mudik di hari raya Idul Fitri kembali diberlakukan oleh pemerintah.Tak ada asap bila tak ada api,tak ada api bila tak ada bara.Libur panjang yang sudah dilalui,ternyata malah menyumbang kenaikan angka kasus positif Covid 19 secara drastis.
Nggak heran jika pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid 19 memutuskan memberlakukan larangan mudik ke seluruh Indonesia.Namun,pemerintah masih memberi kelonggaran,yaitu hanya boleh melakukan mudik lokal.Artinya masyarakat bisa mudik tetapi hanya di wilayah sekitar saja yang telah ditentukan.Misalnya jika tinggal di Jakarta,hanya boleh mudik ke Tangerang,Bekasi atau Depok.
Tentu ini sangat menyiksa bagi mereka yang merantau jauh dari pelosok daerah.Bagaimana nggak? Terpaksa tidak berkumpul bersama keluarga di hari raya diakibatkan kondisi pandemi yang semakin mengganas,mau nggak mau harus lebih mementingkan keselamatan badan,agar di waktu berikutnya dapat kembali ke kampung halaman.Pengusaha armada angkutan mudik pun gak kalah menyiksa.Para supir hingga awak armada yang lain pun harus menelan kepahitan yang kembali terulang di tahun ini
Berikut ini solusi yang mungkin saja bisa diterapkan,agar tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.
1.Pemerataan Jaringan Internet di Pelosok Wilayah Indonesia
Ini adalah solusi yang paling logis dan sangat masuk akal.Kondisi pandemi yang membatasi pergerakan orang memaksa semua orang untuk diam di rumah namun tetap produktif melalui koneksi internet.Terkait persoalan larangan mudik ini,setidaknya provider telekomunikasi di seluruh Indonesia mau urun rembuk bersama pemerintah untuk menyelenggarakan pemerataan jaringan internet di wilayah yang terisolir atau sulit akses komunikasi,khususnya internet.
Di masa larangan mudik ini,banyak yang memanfaatkan internet untuk menghubungkan dengan sanak keluarga di kampung halaman.Namun di kampung halaman sendiri pun,akses internet terasa sangat tidak menjangkau.Para pengamat telekomunikasi menyatakan 12000 desa di Indonesia belum terhubung dengan layanan internet,sehingga pemerataan jaringan internet ini di Indonesia sangat diperlukan.
2.Tetap Mudik,dengan Pemberlakuan Protokol Kesehatan Level Tinggi atau Sangat Ketat
Opsi yang dianggap paling membahagiakan masyarakat namun penuh resiko dan biaya yang amat tinggi serta tidak semuanya mampu.Pengetatan pemberlakuan mudik ini bisa dengan berbagai cara.
Pertama jumlah kapasitas dari bus,kereta api,pesawat terbang,kapal laut hingga kendaraan pribadi dibatasi.Mungkin hanya dapat diisi 50% kapasitas untuk angkutan umum dan mobil pribadi serta kursi penumpang diberikan jarak.Namun pembatasan ini terkendala oleh jumlah armada angkutan yang dianggap masih kurang,ditambah ada saja masyarakat yang rada ngeyel dan ogah mematuhi aturan.
Maklum,ngeyel adalah adat masyarakat kita yang sebenarnya kurang baik,namun dianggap sebagai "teguh pendirian".
Kedua,pemberlakuan tes kesehatan semisal SWAB PCR,SWAB Antigen hingga Rapid Tes serta Tes Genose bagi para calon pemudik dan awak dari armada angkutan mudik.Ini menjadi cara kedua supaya mudik dapat berlangsung aman dan selamat.Semua dapat dilakukan oleh masyarakat yang ingin mudik,namun dari segi biaya nggak semuanya sanggup untuk membayar tes kesehatan tersebut.Mengenai persoalan ini hendaknya pemerintah bersama kalangan swasta yang berkaitan dengan mudik lebaran ini mau urun rembuk dan memberi subsidi.
Ya....sekali lagi,ini hanya sekedar solusi,masalah mau dijalankan atau tidak,yang penting dapat menjadi jalan tengah bagi masyarakat ditengah pandemi yang belum usai.
Komentar
Posting Komentar