Mengambil Pelajaran dari Kasus Brigadir Josua


Aksi Solidaritas untuk Brigadir Josua

Hampir dua pekan, publik dibuat tersita perhatiannya kepada sebuah kasus pembunuhan.Tidak lain dan tidak bukan ialah tewasnya anggota kepolisian berpangkat Brigadir yang bernama Josua dengan kondisi tak wajar.Dibunuh dan dikriminalisasi setelah nyawanya melayang,dengan dugaan pelecehan seksual terhadap istri atasannya dimana ia menjadi ajudannya yaitu Irjen Ferdy Sambo (Kadiv Propam POLRI dari 16 November 2020 - 4 Agustus 2022).

Setelah tewasnya Brigadir Josua, ditemukannya berbagai kejanggalan yang mengherankan,sehingga diadakannya otopsi ulang supaya memberi titik terang atas kasus tersebut.Satu-persatu tabir kasus ini terbuka,tentunya atas desakan masyarakat luas hingga Presiden Joko Widodo pun memerintahkan POLRI untuk transparan.

Tabir pertama yang tersingkap adalah ditetapkannya tersangka yang merupakan eksekutor pembunuhan itu yang berpangkat lebih rendah dari Brigadir Josua, yaitu Bharada E (sebagai informasi,pangkat Bharada ialah singkatan dari Bhayangkara Dua di POLRI,setara dengan pangkat Prajurit Dua di TNI).Motif penembakan masih abu-abu saat Bharada E ditetapkan tersangka.Dugaan pertama masih mengenai pelecehan seksual oleh Brigadir Josua, kepada istri atasannya.

Tabir kedua yang kemudian terbuka ialah pemeriksaan kepada istri dan Irjen Ferdy Sambo itu sendiri.Hasil pemeriksaan pun mengarah kepada pengecekan CCTV rumah Irjen Ferdy Sambo yang pada saat kejadian,terjadi kerusakan.Bahkan ketua RT tempat tinggal Irjen Ferdy Sambo pun kesal dengan rusaknya CCTV yang kemudian diganti tanpa ada izin darinya.

Setelah pengecekan CCTV, tabir selanjutnya mulai terkuak, terutama dari pengakuan Bharada E yang mengaku bahwa ia membunuh Brigadir Josua atas perintah atasannya.Puncaknya, pada hari Rabu 10 Agustus 2022, Kapolri beserta jajaran lain menetapkan 25 tersangka baru termasuk Irjen Ferdy Sambo.
Sungguh ironi, dimana ia mengucapkan belasungkawa pada Brigadir Josua kemudian dialah yang menjadi dalang pembunuhan ajudannya sendiri.

Sebagai catatan, 25 tersangka ini diduga telah menghalangi penyidikan atas kasus pembunuhan Brigadir Josua serta membuat skenario, seakan-akan Brigadir Josua telah bertindak tidak pantas terhadap istri Irjen Ferdy Sambo.Tudingan perbuatan tidak pantas ini pada akhirnya luntur, seiring dengan perjalanan kasus ini di muka publik.

Kontan akibat perbuatan Irjen Ferdy Sambo, para keluarga dari 25 tersangka tersebut meminta agar Irjen Ferdy Sambo untuk bertanggungjawab.Hal ini dikarenakan kejahatan yang dilakukan, sangat sistematis secara kepangkatan dan telah merusak reputasi karir serta nama baik keluarga.Dari pangkat Tamtama, Bintara, hingga Perwira, baik di tingkat pertama,menengah sampai tinggi, terseret di dalam pusaran kasus ini.

Terbaru,jumlah tersangka bertambah menjadi 36 orang.Makin menimbulkan spekulasi liar bahwa pembunuhan Brigadir Josua memang terstruktur dan sudah lama dirancang, yang mana pernah dibuktikan oleh kuasa hukumnya,melalui rekaman video call antara Brigadir Josua dengan pacarnya bahwa ia akan dibunuh.

Dalam tulisan ini, saya tidak membahas mengenai konsekuensi hukum dan ancaman yang akan didapat, karena hal itu sudah menjadi porsi para penegak hukum yang bertugas, baik POLRI maupun kuasa hukum Brigadir Josua.Yang akan saya bahas hanyalah pelajaran kasus ini dalam kehidupan sehari-hari.

Pelajaran pertama ialah ketika dalam posisi jabatan apapun, baik di pemerintahan maupun swasta, jangan menjadikan bawahan atau rekan kerja sebagai tumbal, untuk memuluskan ambisi pribadi ataupun untuk meloloskan proyek tertentu, yang sebenarnya tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dalam bekerja.Apa yang dilakukan Irjen Ferdy Sambo, sudah barang tentu termasuk dalam kategori yang disebut barusan.

Pelajaran kedua yaitu mengenai menjaga nama baik, baik itu diri sendiri, tempat bekerja, maupun keluarga besar yang sudah mendukung karir.Jangan pernah berbuat hal-hal aneh dan diluar batas kewajaran, apalagi sampai menimbulkan pelanggaran hukum dan keributan masyarakat, terlebih di zaman media sosial, dimana semua orang mampu mengetahui latar belakang setiap orang yang tersandung permasalahan.

Sekecil dan sebesar apapun perbuatan buruk yang dilakukan di zaman sekarang ini, cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu melalui media sosial dan ujung-ujungnya akan mencibir tempat bekerja hingga mencibir keluarga,yang sebenarnya tidak terlibat dalam perbuatan buruk yang kita lakukan, seperti yang telah dialami para tersangka kasus pembunuhan Brigadir Josua.Karir hancur, nama baik hancur hingga keluarganya menahan malu sekuat mungkin atas segala cibiran masyarakat.

Pelajaran ketiga adalah mengenai kekompakan masyarakat dalam menyuarakan ketidakadilan aparat penegak hukum.Semua orang wajib memiliki sikap perhatian tinggi terhadap berbagai kasus hukum yang melibatkan masyarakat dengan aparat penegak hukum yang tidak amanah.

Kuncinya ada pada kekompakan dan keberanian.Kalaupun ada yang berani mengancam masyarakat yang bersuara, tinggal kuliti saja dengan kecanggihan media sosial, meski sebenarnya ini agak frontal dan beresiko.Gunakan cara yang elok atau sedikit nyentrik, supaya tidak ada yang berani memadamkan suara masyarakat dalam mengungkap ketidakadilan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mlaku-Mlaku di Singapura dan Malaysia (bagian 1)

Bertamu ke Museum POLRI