September (Tidak) Ceria
Judul tulisan ini seperti judul lagu biduanita terkenal era 80an yang dijuluki Si Burung Camar, Vina Panduwinata.Namun saya tambahi dengan kata 'tidak' ditengah judul.Kenapa demikian? Hari Sabtu,3 September 2022 kemarin, jam 14.30 WIB, secara serentak semua jenis BBM naik.Kontan kenaikan BBM menimbulkan reaksi yang beragam, mulai dari aksi unjuk rasa di berbagai tempat hingga cibiran segelintir orang kepada masyarakat yang menolak kenaikan BBM.
Jauh sebelum ketok palu kenaikan BBM tanggal 3 September 2022 kemarin, banyak prediksi atau desas-desus kenaikan BBM sejak 31 Agustus 2022 yang mengakibatkan antrean panjang di sejumlah pom bensin.Meskipun batal naik,akhirnya dengan sangat terpaksa,BBM pun naik juga.
Kenaikan BBM yang diproduksi oleh Pertamina, disampaikan melalui Kementerian ESDM dan diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo ini langsung mendapat respon masyarakat.Ada yang memutuskan untuk mengisi BBM di pom bensin selain Pertamina, seperti yang terjadi pada pom bensin milik Vivo di sejumlah tempat di Jabodetabek, yang menurut masyarakat harganya lebih murah dari milik Pertamina.
Hal ini sempat membuat Kementerian ESDM meminta kepada pom bensin Vivo untuk menyesuaikan harga dengan pom bensin Pertamina atau yang selevel dengan pom bensin Vivo.Kontan masyarakat internet kita atau netizen merasa bahwa Pertamina yang berstatus sebagai BUMN mencoba untuk mendominasi pasar BBM di Indonesia hingga mencoba untuk melakukan monopoli.Seperti yang kita tahu,sudah banyak perusahaan minyak di luar Pertamina yang menancapkan benderanya disini, seperti Shell, BP (British Petroleum), Total, hingga Mobil 1.
Alasan pemerintah menaikan harga BBM ialah untuk mengatasi ketidaktepatan sasaran subsidi BBM, dimana menurut pemerintah,70% subsidi BBM digunakaan oleh orang mampu dan berkecukupan.Pertanyaannya dapat data dari mana ya? Usut punya usut, banyak tersebar kabar angin, bahwa naiknya harga BBM untuk membiayai proyek pemerintah berupa pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dan proyek Ibu Kota Negara yang baru di Kalimantan Timur sana. Benar atau tidak,Ya Ndak Tahu,Kok Tanya Saya...
Seperti yang sudah-sudah, kenaikan BBM memiliki efek domino yang cukup berpengaruh pada semua sektor.Dari sektor vital seperti transportasi, tarif angkot hingga bus, baik AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) mupun AKDP (Antar Kota Dalam Provinsi) naik cukup drastis.Kemungkinan harga komoditas seperti sembako sampai makanan pun bisa saja naik gila-gilaan
Saya pun mengalami dampak kenaikan BBM tersebut pada hari Minggu, 3 September 2022 kemarin, ketika saya pulang dari Jakarta menuju Pandeglang via Serang.Semasa naik angkot dari kawasan Kebon Jahe,Kota Serang dan sampai di Pandeglang,tarifnya pun sudah naik, yang biasanya saya hanya bayar Rp10.000 sekarang sudah Rp12.000.Begitu juga penumpang lain yang turun di kawasan Baros,Kabupaten Serang,yang semula cukup bayar Rp5.000, kini membayar Rp10.000.
Di berbagai lini media sosial, kecaman dan penolakan terhadap kenaikan BBM, lebih santer.Netizen kita banyak menganggap bahwa kenaikan BBM sekarang adalah keputusan keliru, dikarenakan turunnya harga minyak dunia.Meski suara-suara netizen yang kontra dengan kenaikan BBM ini terdengar keras, tetap saja ada tuyul sosmed alias Buzzer pro pemerintah yang mencibir netizen.
Netizen yang kontra dengan kenaikan BBM, dianggap tidak bersyukur dan seringkali membandingkan dengan perbandingan seperti ini:
"Beli motor jutaan sama beli rokok aja bisa,Lah kok Pertamax harga Rp14.500an gak mampu
"Beli motor jutaan sama beli rokok aja bisa,Lah kok Pertamax harga Rp14.500an gak mampu
beli? Sebenarnya anda stress apa gimana?"
Dasar tuyul sosmed yang tidak berpikir panjang,asal bicara tanpa melihat kondisi.Mungkin yang bersangkutan sedang pura-pura bahagia di depan media sosial seakan-akan tidak mengalami dampak apapun dari kenaikan BBM ini.
Dari penjelasan ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa pemerintah sejauh ini masih belum mampu mengendalikan subsisdi BBM yang semestinya diperuntukan untuk masyarakat bawah.Kemudian proyek-proyek fantastis tersebut,mungkin sudah ada kajian sistematis,tapi untuk realisasi jangan terlalu dikebut,baik dari segi anggaran maupun pelaksanaan.Harus ada manajemen resiko yang baik.
Pesan dari saya cukup sederhana, mari berhemat sebelum kebutuhan rakyat disunat oleh yang katanya wakil rakyat.
Komentar
Posting Komentar