Santet Kok Muncul Lagi?
Belakangan ini,Bupati Lebak,ibu Iti Octavia Jayabaya,melontarkan pernyataan keras kepada anggota Kantor Staf Presiden,pak Moeldoko,yang telah membuat Kongres Luar Biasa suatu partai politik besar,untuk menggulingkan kepemimpinan ketua umum partai tersebut,yaitu anak mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono,Agus Harimurti Yudhoyono.
Pernyataan ibu bupati tersebut berupa ancaman santet kepada pak Muldoko.Sebuah pernyataan yang amat menggegerkan khalayak ramai,mengingat status beliau adalah sebagai pejabat publik di wilayah Kabupaten Lebak,Provinsi Banten dan sepatutnya beliau tak perlu mengurusi hal itu,walaupun faktanya ibu bupati adalah kader partai yang sedang diguncang oleh pak Muldoko.
Meski pada akhirnya,ibu bupati memberi klarifikasi bahwa ancaman santet itu hanyalah gertakan kepada pak Muldoko nggak berbuat neko-neko dengan partai yang mengusung dirinya menjadi bupati Lebak.
Praktek santet sendiri sudah dibuktikan melalui sebuah teks lontar dari abad ke 6 Masehi,yaitu Sanghyang Siksa Kandang Karesian.Menurut artefak itu,santet adalah bentuk sakit hati yang dilampiaskan kepada orang lain.
Sebagian masyarakat Indonesia beranggapan bahwa pusat dari kegiatan santet adalah di wilayah Banten.Namun pada faktanya,beberapa wilayah lain juga diyakini sebagai pusatnya santet seperti Cirebon dan Banyuwangi.
Jenis santet pun ada macamnya.Ada yang hanya menimbulkan efek sakit,seperti halnya muntah paku dan jarum atau paku dan jarum tersebut tertanam dalam organ dalam tubuh.Bahkan yang lebih mengerikan ialah bisa menyebabkan efek kematian,bagi orang yang dituju.Dari segi keagamaan,kegiatan santet ini dalam pandangan agama Islam,jelas sangat dilarang.Karena dalam praktek santet ini melibatkan jin dan setan serta termasuk dalam kategori menyekutukan Allah.
Nah...di zaman moderen seperti ini,terlebih di tengah masa pandemi virus Corona yang udah berjalan setahun,kata santet masih dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan,bahkan orang lebih takut kena santet ketimbang virus Corona.Hal ini menjadi sebuah potret,dimana kultur yang berkaitan dengan hal-hal diluar nalar masih menjadi hal yang diyakini masyarakat.
Akhir kata,udah lah,gak perlu pakai santet segala kalau emang gak menyukai seseorang karena sikapnya.Cukup putus kontak dan ajak ngobrol sembari ngopi,siapa tahu bisa baikan lagi,tanpa harus tebar ancaman santet.Lagipula,hari gini masih percaya santet? Buat apa...

Komentar
Posting Komentar