Menyoal Toleransi yang Kebablasan
Ya.kenapa pada kali ini saya menulis masalah toleransi?Mungkin memang ini momen yang tepat untuk menjelaskan arti dari toleransi yang sebenarnya.Maklum saja,di bulan Desember ini hari besar keagamaan di Indonesia hampir bersamaaan.Kaum Muslimin dan Muslimat merayakan Mauid Nabi Muhammad SAW,sedangkan penganut Kristen(baik Katolik maupun Protestan) merayakan Natal.
Secara umum toleransi itu artinya saling menghargai dengan perbedaan yang ada di tengah masyarakat atau lingkungan sekitarnya.Dari sekian banyak pengertian inilah timbul adanya sikap respect terhadap sesama manusia dalam keberagaman.Contohnya nggak usah jauh-jauh,negara kita saja Indonesia,dengan ribuan etnik asli belum termasuk yang di pedalaman bahkan yang keturunan,ratusan bahasa serta dialek,dan beragamnya agama serta kepercayaan,kita bisa hidup harmonis dan saling mengisi,meski kadang ada konflik disana-sini.
Sejauh ini,masyarakat kita sudah dapat melaksanakan toleransi bahkan katanya sudah mengalami peningkatan.Tapi,ditengah-tengah peningkatan itu ada segelintir kelompok yang katanya lagi mengaku menjunjung tinggi toleransi,namun sebenarnya malah menjual aqidahnya sendir.Waduhhh...gawat coy!!!
Kelompok-kelompok ini sering sekali mengatakan bahwa toleransi itu harus saling ikut-ikutan hari besar keagamaan,tanpa harus merasa sungkan apalagi malu.Ini yang dikhawatirkan sebagian besar masyarakat kita,bahwa toleransi malah menjadi ajang untuk mencampur-aduk aqidah yang ujung-ujungnya malah menjadi kesesatan.Contohnya ya sekarang ini,banyak diantara masyarakat Muslim di Indonesia mengucapkan Selamat Natal dan ikut-ikutan memeriahkannya bahkan lebih nekat lagi ada yang ngakunya kyai tapi ceramah di gereja.Sepengetahuan saya,ini dilarang dalam Islam karena sudah ikut campur keyakinan agama lain.
Kalau ada yang bilang itu sekedar kata-kata dan tidak perlu dipersoalkan,sekarang saya tantang balik mereka untuk mengajak orang yang beragama di luar Islam mengucap kalimat syahadat.Pasti masyarakat yang beragama di luar Islam tidak mau,karena sudah dalam ranah aqidah agama Islam.Begitu juga kita selaku kaum Muslimin dan Muslimat,kita juga tidak mau mengucapkan selamat natal karena itu sudah masuk ke ranah keyakinan umat Kristen.
Jadi kesimpulan dari tulisan saya kali ini adalah,ketika kita saling pengertian dan membiarkan umat beragama lain beribadah dengan tenang dan khusyuk,itulah toleransi yang sebenarnya.Mudah-mudahan tulisan saya kali ini bermanfaat bagi saya sendiri dan bagi para pembaca sekalian
Secara umum toleransi itu artinya saling menghargai dengan perbedaan yang ada di tengah masyarakat atau lingkungan sekitarnya.Dari sekian banyak pengertian inilah timbul adanya sikap respect terhadap sesama manusia dalam keberagaman.Contohnya nggak usah jauh-jauh,negara kita saja Indonesia,dengan ribuan etnik asli belum termasuk yang di pedalaman bahkan yang keturunan,ratusan bahasa serta dialek,dan beragamnya agama serta kepercayaan,kita bisa hidup harmonis dan saling mengisi,meski kadang ada konflik disana-sini.
Sejauh ini,masyarakat kita sudah dapat melaksanakan toleransi bahkan katanya sudah mengalami peningkatan.Tapi,ditengah-tengah peningkatan itu ada segelintir kelompok yang katanya lagi mengaku menjunjung tinggi toleransi,namun sebenarnya malah menjual aqidahnya sendir.Waduhhh...gawat coy!!!
Kelompok-kelompok ini sering sekali mengatakan bahwa toleransi itu harus saling ikut-ikutan hari besar keagamaan,tanpa harus merasa sungkan apalagi malu.Ini yang dikhawatirkan sebagian besar masyarakat kita,bahwa toleransi malah menjadi ajang untuk mencampur-aduk aqidah yang ujung-ujungnya malah menjadi kesesatan.Contohnya ya sekarang ini,banyak diantara masyarakat Muslim di Indonesia mengucapkan Selamat Natal dan ikut-ikutan memeriahkannya bahkan lebih nekat lagi ada yang ngakunya kyai tapi ceramah di gereja.Sepengetahuan saya,ini dilarang dalam Islam karena sudah ikut campur keyakinan agama lain.
Kalau ada yang bilang itu sekedar kata-kata dan tidak perlu dipersoalkan,sekarang saya tantang balik mereka untuk mengajak orang yang beragama di luar Islam mengucap kalimat syahadat.Pasti masyarakat yang beragama di luar Islam tidak mau,karena sudah dalam ranah aqidah agama Islam.Begitu juga kita selaku kaum Muslimin dan Muslimat,kita juga tidak mau mengucapkan selamat natal karena itu sudah masuk ke ranah keyakinan umat Kristen.
Jadi kesimpulan dari tulisan saya kali ini adalah,ketika kita saling pengertian dan membiarkan umat beragama lain beribadah dengan tenang dan khusyuk,itulah toleransi yang sebenarnya.Mudah-mudahan tulisan saya kali ini bermanfaat bagi saya sendiri dan bagi para pembaca sekalian
Komentar
Posting Komentar