Pentingnya Mengelola Uang,Saat Ketimpa Rejeki Nomplok

 


Masih ingat kan dengan kisah Kampung Miliarder di Kabupaten Tuban,Jawa Timur? Dimana warga sekitar yang lahannya dibeli pihak Pertamina untuk pembangunan kilang minyak Pertamina Grass Root Refinery dan seketika itu juga warga di kampung itu mendadak tajir,sampai membeli mobil serta motor yang cukup mewah.

Kini,warga kampung tersebut hanya mengelus dada.Tidak lagi mendapatkan penghasilan tetap seperti dulu,ketika masih memiliki lahan yang notabene adalah lahan pertanian.Bahkan beberapa warga desa sampai menjual ternak berupa sapi,untuk kebutuhan makan sehari-hari.

Kisah mengenai Kampung Miliarder yang sekarang harus kembali dari bawah.Mencari cara agar warga kampung tersebut dapat bertahan hidup dengan cara apapun,asalkan halal.Dahulu warga desa sempat dijanjikan pekerjaan oleh pihak Pertamina dan seiring dengan berjalannya waktu,warga desa menuntut janji yang tak dikabulkan.Mungkin karena gak ada hitam diatas putih,jadinya warga disana gak mendapat apa yang dijanjikan Pertamina.Kesannya Pertamina menjadi licik terhadap warga desa (duh jahatnya kalian).

Dari kasus ini,saya jadi ingat kisah-kisah Jakarta waktu masih lebar tanahnya.Dulu,waktu Jakarta giat-giatnya membangun,entah itu bangun kantor atau perumahan,banyak tanah milik masyarakat yang dibeli,baik oleh pemerintah maupun perusahaan.

Kontan masyarakat pemilik tanah yang tanahnya dibeli itu seperti ketiban rejeki nomplok.Umumnya mereka malah menggunakan uang dari tanah yang dibeli itu justru untuk hal yang kurang perlu dan hanya terkesan untuk pamer,seolah-olah sudah jadi "orang kaya".Ada yang mengadakan hajatan berupa pesta pernikahan atau sunatan dengan mengundang orkes atau hiburan rakyat semalam suntuk secara besar-besaran sampai dipakai untuk beli barang-barang mewah.

Ketika Jakarta tanahnya sudah tak lebar lagi,para pemilik tanah yang dulu dibeli pemerintah atau perusahaan mulai kebingungan.Mau cari makan dari mana lagi,sedangkan tanah mereka sudah dijual dan hasilnya pun bukan diolah kembali.Wajar karena saat itu masyarakat masih belum banyak yang berpendidikan dan berpikir pendek.Akhirnya banyak dari mereka yang bekerja serabutan,dkarenakan tidak punya pendidikan dan kemampuan kerja cukup,bahkan menjadi tukang parkir atau tukang ojek pun dijalani.

Kisah tersebut kurang lebih sama dengan yang terjadi di Tuban.Kurangnya pendidikan dan pemahaman dalam mengelola uang saat mendapat rejeki nomplok menjadi faktor utama.Selain itu,faktor gengsi yang sudah menjadi adat istiadat masyarakat kita belakangan ini,menjadi sebab lain mengapa kasus di Tuban dan wilayah lain di Indonesia terulang.

Ada beberapa cara dalam mengelola uang saat mendapat rejeki nomplok.Pertama belilah benda yang setiap tahunnya harga benda itu naik,semisal logam mulia atau tanah.Ketika ada kebutuhan darurat,kedua jenis benda itu dapat dijual dan hasilnya bisa dipergunakan untuk memenuhi keperluan darurat.

Kedua tabunglah uang tersebut di bank yang jelas dan terpercaya,jangan dihabiskan untuk hura-hura atau beli barang mewah yang pasti turun harganya.

Ketiga buatlah usaha yang disukai dengan modal uang rejeki nomplok itu,misalnya bikin kolam lele yang bisa dijual ke pedagang pecel lele dan ibu-ibu yang ingin makan lele.Atau buka warung kelontong sampai warung kopi,tentu dengan lokasi warung yang strategis.

Paling ini saja yang bisa saya ceritakan perihal kasus di Tuban tersebut.Intinya bijaklah mengelola uang dalam berbagai situasi,baik ketika mendapat rejeki nomplok dari proyek maupun hadiah serta bonus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mlaku-Mlaku di Singapura dan Malaysia (bagian 1)

Bertamu ke Museum POLRI

Mengambil Pelajaran dari Kasus Brigadir Josua